Ini Alasan BPBD Melarang Pembakaran Lahan Secara Sembarangan

Tenaga manusia, bahan bakar kendaraan, 4.000 liter air per mobil pemadam harus terbuang

Pringsewu, BPBD.

Kira-kira pukul 11.15 WIB, jelang tengah hari ini, Kamis, 5 September 2019, alarm kantor BPBD Kabupaten Pringsewu berbunyi. Seketika lagu Mutiara Hidupku ciptaan Rhoma Irama yang sedang disenandungkan–entah oleh siapa–dari arah dapur, tidak terdengar lagi. Kesibukan sejumlah satgas pemadam kebakaran yang sedang menyiapkan santap siang bersama pun berganti dengan persiapan berangkat ke lokasi kejadian. Tidak hanya itu, suara deru mobil pemadam yang menyusul kemudian turut membuyarkan kekhusyukan admin situs ini dalam membaca sejumlah peraturan.

Satu mobil pemadam, mengangkut enam orang, berangkat lebih dahulu. Admin termasuk di dalamnya. Menyusul di belakang: Plt. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Sunarto; Kepala Seksi Tanggap Darurat, Evakuasi, dan Kebakaran, Aprila Hasaimaka; dan Kepala Seksi Logistik dan Perbekalan, Abdul Haris. Wujud profesionalitas.

Berdasarkan laporan yang masuk ke Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pringsewu, M. Khotim, lokasi kejadian kebakaran berada di wilayah Pekon Fajar Agung, Kecamatan Pringsewu. Lokasi persisnya, rombongan BPBD yang berangkat masih harus mendapat panduan langsung dari sekretaris pekon bersangkutan, Sigit Prasetyo. Lima menit waktu yang ditempuh regu pemadam untuk mencapai lokasi yang berjarak lebih kurang 3,5 kilometer.

Bukan rumah, pabrik, sekolah, pasar, atau kios yang terbakar, tetapi lahan kering tanpa tanaman produktif. Medannya pun berbukit-bukit. Mobil pemadam tidak bisa mencapai titik api yang berjarak kira-kira 100 meter lagi. Sementara bunga-bunga api masih beterbangan diembus angin yang cukup kencang. Salah satu hasilnya, satu pohon kelapa terbakar di pucuknya. Sungguh medan yang menyulitkan untuk dilakukan pemadaman total.

Lahan kering yang terbakar lebih kurang dua hektar

Sekretaris pekon telah berada di tepi lahan yang terbakar, bersama tujuh orang warga yang datang ke lokasi karena mendengar teriakan kebakaran. Hingga petugas pemadam datang ke lokasi, warga secara sukarela berusaha menghentikan api membakar lahan lebih luas. Peralatannya? Golok untuk membelah dahan-dahan berdaun lebat, kemudian memukulkannya ke api dan bara. Sayangnya, di antara warga yang berada di lokasi kejadian, tidak satu pun yang bisa memberikan keterangan waktu munculnya api dan penyebabnya secara akurat. Sementara, data yang berhasil didapat berupa dugaan lahan yang dibakar dengan sengaja, kurang lebih dua hektar luas lahan yang terbakar, dan tiga identitas pemilik atas lahan yang terbakar.

Lokasi lahan yang terbakar berada di belakang posisi pengambilan foto

Setelah lima menit membaca situasi, ditambah saran dari warga, mobil pemadam dipindahkan ke lokasi yang berada di bawah bukit tempat lahan terbakar, tetapi secara jarak diperkirakan lebih dekat untuk menjangkau api. Memang betul, di lokasi parkir yang baru, penyiraman bisa dilakukan. Hanya saja petugas pemadam mesti mendaki lereng bukit yang terjal dibantu tangga yang panjangnya tidak pula mencapai puncak. Pukul 12.30 WIB, setelah dua selang disambungkan, penyiraman terhadap titik-titik api dilakukan sejauh jangkauan. Dua orang warga bertahan di lokasi demi membantu pekerjaan petugas. Pukul 13.15 WIB, titik-titik api yang berpotensi membakar lahan lebih luas berhasil dipadamkan. Selebihnya, warga yang berada di sekitar lokasi berjanji untuk melakukan pengawasan dan melaporkan bila muncul titik api yang baru. Namun, hingga kabar ini diterbitkan, belum ada laporan baru yang masuk.

Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah mengenal bencana yang diakibatkan oleh alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. Demikian pula jenis bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam semisal gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit. Bahkan, untuk jenis musibah kebakaran yang tidak disebutkan dalam undang-undang di atas, BPBD Kabupaten Pringsewu “akrab” dengannya. Namun, untuk musibah kebakaran yang disebabkan ulah manusia tanpa tanggung jawab, seperti kebakaran lahan, andai bisa memilih, tentu saja BPBD tidak ingin berurusan dengannya.

Butuh kedewasaan, kesadaran, dan kebajikan tiap-tiap individu masyarakat Kabupaten Pringsewu untuk tidak gegabah melakukan pembakaran lahan kering, daun, kayu, plastik, dan semacamnya, terlebih di tengah musim kemarau yang di sisi lain berpotensi menimbulkan bencana alam kekeringan. Perhatikan kondisi sekitar seperti permukiman atau keberadaan bahan mudah meledak, juga embusan angin, saat terpaksa harus melakukan pembakaran. Tentu setelahnya api yang telah dinyalakan tidak bisa ditinggal begitu saja.

Aktivitas pemadaman membutuhkan energi yang besar. Tenaga manusia, bahan bakar kendaraan, 4.000 liter air per mobil pemadam harus terbuang. Petugas pemadam yang terjun ke lokasi kejadian juga harus mempertaruhkan raga dan jiwa karena profesi ini memiliki risiko tinggi. Untuk itu, BPBD Kabupaten Pringsewu mengingatkan agar masyarakat berhati-hati dan memandang bahwa kebakaran adalah suatu musibah atau kejadian yang memungkinkan untuk dicegah.

Namun, bila kewaspadaan sudah ditingkatkan dan upaya pencegahan telah dilakukan, tetapi bencana serta musibah tetap terjadi, segera hubungi BPBD di nomor (0729) 21108.

Suasana tenang dan damai pasca-penanganan kebakaran

(p&u)

Leave a Response