Gara-Gara Foto Ini, BPBD Didatangi ACT

Kebutuhan data terkait bencana kekeringan, merupakan landasan bagi ACT untuk menurunkan atau tidak menurunkan bantuan di lokasi bencana

Pringsewu, BPBD.

Tidak disangka, peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia Sabtu lalu (17/8) yang diselenggarakan warga Pekon Bulukarto, Kecamatan Gadingrejo, menuai banyak reaksi. Sebabnya, warga melaksanakan upacara penaikan bendera merah putih di dasar Sungai Way Bulu. Kebasahan, hanyut? Tidak, dong. Pasalnya, sungai tersebut dalam kondisi kering akibat kemarau.

Viral! Upacara penaikan bendera merah putih di Sungai Way Bulu

Kuncoro, Kepala Pekon Bulukarto, menjelaskan maksud penyelenggaraan upacara yang dimaksud selain untuk menggambarkan keprihatinan warganya atas kekeringan, sekaligus mengampanyekan gerakan sungai bersih. Bicara kekeringan, wajar warga Bulukarto yang mayoritas bekerja sebagai petani mengeluh. Saat sedang musim tanam, justru mereka tidak mendapatkan air. Memang, sebagian petani memanfaatkan air dari sumur bor, tetapi tentu saja cakupan pengairannya tidak maksimal.

Kembali ke soal upacara kemerdekaan di sungai kering. Foto yang beredar menjadi viral, diliput koran lokal, bahkan videonya terunggah di Youtube. Tanggapan yang menjadi pembeda ialah, bila warganet hanya meninggalkan jejak berupa like dan comment, tidak bagi pegiat sosial kemanusiaan dari Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Melihat foto upacara yang viral tersebut, Arief Rokhman selaku Head of Program dari ACT Cabang Lampung, berpikir perlu untuk datang ke Pringsewu dan mencari informasi tentang latar belakang aksi warga di Sungai Way Bulu. Maka, pada hari Senin (19/8), pukul 14.30 WIB, datanglah Arief beserta Ria Cedeta (pengadministrasi keuangan) ke kantor BPBD Kabupaten Pringsewu. Mengapa kantor BPBD yang didatangi pertama kali oleh ACT, karena kekeringan–bila terjadi secara luas–terkategorikan bencana, sehingga menjadi cakupan penanganan Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Mengenai bencana kekeringan, bisa dibaca: Tips Siaga Bencana Kekeringan dari BNPB.

Kehadiran relawan kemanusiaan dari Aksi Cepat Tanggap kemudian diterima oleh Kepala Seksi Pencegahan, Agung Aditama, mewakili Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pringsewu. Dalam tatap muka yang hanya berlangsung 15 menit, Arief dan Ria menanyakan sejumlah data yang justru dikuasai oleh Dinas Pertanian. Di antaranya data tentang luas lahan pertanian yang terdampak kekeringan, luas sawah produktif dan sebarannya di sembilan kecamatan. Adapun pertanyaan mengenai kecamatan mana saja yang mulai terdampak kekeringan, bisa dijawab dengan lugas. Kebutuhan data terkait bencana kekeringan, menurut penjelasan Arief, merupakan landasan bagi ACT untuk menurunkan atau tidak menurunkan bantuan di lokasi bencana.

ACT sendiri, sejak didirikan pada 21 April 2005, fokus bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan. Demi memperluas darmanya, ACT mengembangkan aktivitas, mulai dari kegiatan tanggap darurat, program pemulihan pascabencana, pemberdayaan dan pengembangan masyarakat, serta program berbasis spiritual seperti Qurban, Zakat dan Wakaf. Mengenai pendanaan, ACT didukung oleh donatur publik dari masyarakat yang memiliki kepedulian tinggi terhadap permasalahan kemanusiaan. Dari pihak swasta, partisipasi perusahaan melalui program kemitraan dan Corporate Social Responsibility (CSR) juga turut diandalkan. Kepercayaan dari donatur diperoleh dengan menjaga akuntabilitas keuangan. Sebab itulah ACT secara rutin memberikan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik kepada donatur dan pemangku kepentingan lainnya, serta mempublikasikannya melalui media massa.

Salah satu bentuk penghimpunan donasi dalam misi kemanusiaan ACT

Ditanyakan tentang kemungkinan pemberian bantuan, Arief menjelaskan tahapan demi tahapan yang mesti dilewati. Pertama, tentu saja mencari data tentang bencana dan yang terdampak. Kedua, tidak lepas dari forum seperti focus group discussion (FGD) yang mempertemukan pemangku kepentingan, warga terdampak bencana, dan ACT sebagai pihak yang akan memberikan bantuan. Dalam hal bencana kekeringan, ACT memberikan bantuan dalam bentuk sumur bor yang proses pembangunan dan pemeliharannya mengikutsertakan peran dari warga terkait. Berapa jumlah sumur bor yang dibantu dan berapa kedalaman tiap titik, Arief mengatakan itu tergantung dari data yang didapat serta hasil FGD yang dilakukan.

Sebagai penutup pertemuan, ACT berharap kepada BPBD Kabupaten Pringsewu untuk bersedia berkolaborasi ketika tiba saatnya memberikan bantuan. Kolaborasi seperti apa detailnya, akan dibicarakan pada pertemuan selanjutnya.

Masuknya musim kemarau telah menimbulkan bencana kekeringan. Hal ini meningkatkan risiko terjadinya musibah kebakaran di lahan pertanian, perkebunan, dan permukiman. Oleh karena itu, BPBD Kabupaten Pringsewu tidak bosan-bosannya mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dalam menghadapi datangnya bencana alam maupun musibah kebakaran. Kewaspadaan ini bisa dimulai dengan tidak sembarangan melakukan pembakaran.

Hubungi BPBD di nomor (0729) 21108.

(p&u)

Leave a Response